~ Saat itu senja. Tuhan berbaik hati padaku, ijinkanku ada disampingmu. Duduk bersamamu memandang air mancur cantik ditengah taman kota. Sekumpulan burung dara menari-nari diatas kepala... langit merahpun melukis ronanya untuk kita. Sangat lekat kupandangi wajahmu, tak henti, seakan esok tak kan lagi kutemui hari seperti itu. Jemari berpautan, senyum disudut bibirpun tak sanggup kusembunyikan darimu. Hingga kini senyum itu masih untukmu.
entah sudah berapa lama aku, bahkan mungkin juga dirimu, menanti saat ini tiba. walau dalam penantian itu tidak berani kuselipkan harapan jadi nyata. tapi Tuhan terlalu menyayangiku. inilah doa ditiap helai nafasku.
dapat bertemu lagi denganmu...
aku menatap lekat wajahmu. matahari senja terpantul disudut senyummu. Ini kali pertama kita duduk sedekat ini. tiga tahun lalu kamu hanya berani duduk didepanku dengan jarak tak tersentuh dan hanya mampu melihatku. itu pengakuanmu. tanpa kamu tau, ditiap detik saat-saat itu hatikupun selalu melihat kearahmu. Dalam diam, aku tau sejak saat itu aku telah serahkan hati ini untukmu... lalu kau pergi jauh melanjutkan studimu dan menjalin cinta dengan yang lain. kita sama-sama tau mengapa.Tapi beginilah, kita tidak pernah berakhir.
aku nikmati semua sosokmu... mataku tak mampu beralih kemanapun. ingin kubelai rambutmu yang panjang dan indah tertiup angin, tapi degup hati yang tak biasa ini menghentikan imajinasiku. kuukir tiap garis wajahmu, menyimpan tiap lekuk yang tergambar disana. wajah yang selama ini hanya mampu kunikmati dari kilau-kilau foto dilayar laptopku yang diam-diam kucuri dan kusimpan dari wall FACEBOOK-mu! hehehehe.... Kamu seperti lukisan indah yang menjadi nyata. seperti pinokio yang mengubah tubuh kayunya menjadi manusia!! Sebagai laki-laki, sosokmu sangat indah dimataku dan di hatiku.
lalu kuresapi suaramu tiap kali kamu bicara dan bercerita. suara yang juga adalah kali pertama kudengar langsung dengan telingaku ini. suara itu tidak kalah indah seperti suara yang biasanya hanya mampu kudengar lewat hp-ku. suara yang selama ini menjadi teman kopi dan roti-ku sepanjang tahun. hanya saja suara itu lebih nyaman kudengar langsung. aku sangat suka suaramu. suaramu yang selalu menemani hari-hariku saat jauh darimu. suara yang memperkenalkan sosokmu pada duniaku. suara yang selalu membuatku merasa hangat. suara yang selalu aku rindu. kau pasti tidak tau betapa berat semua perjalanan ini kulalui, tapi kau selalu hadir dengan suaramu. disaat- saat seperti itu, aku seperti tangki kosong yang terisi bensin suaramu dan membuat mesin semangatku kembali berjalan. itulah arti "kopi, roti dan suaramu" dalam duniaku.
belum puas aku nikmati semua, kau menarik tanganku dan mengajakku berlari. hujan cemburu pada kita saat itu. tiba-tiba Ia turun dengan derasnya tanpa jeda. sepertinya ia tidak suka aku berlama-lama mengagumi sosokmu. disebuah pos satpam yang mungil itu, hanya dalam hitungan detik saja, kau membuatku mencintai hujan yang turun tadi. kau peluk aku. dekatkan hatimu hingga mampu kudengar detaknya, lalu kurasakan kau mencium keningku. waktu seakan berhenti saat itu dan hujan yang membuat keajaiban itu.
semakin erat kamu genggam jemariku. semakin lekat senyummu tersungging untuku. semakin hatiku bergetar tak terbaca kata. semakin sibuk kusembunyikan pipiku yang terasa memanas!! semakin salah tingkahnya aku menghindari tatapan matamu.
aku berterimakasih pada Tuhan dan akhirnya juga pada hujan yang turun. untuk keajaibannya saat itu. aku sangat menyesal sudah berburuk sangka terhadapnya.... dan itulah dirimu yang selalu mampu membantuku memutar segala hal yang kupikir buruk menjadi indah.
Katakan bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu?
tahun berlalu sejak saat itu. dan hingga sekarang... apa kau tau? saat indah seperti itu, aku tidak akan bersedia menukarnya dengan apapun didunia ini... walau aku tidak tau lagi dimana kau berada saat ini, walau kesalahan dan keegoisan sengaja kita lukis bersama, aku ingin kau tau aku tidak pernah menyesal menjalani kisah yang bagai mimpi ini denganmu. melewati berjuta-juta jam walau hanya dengan suaramu dan mendapat hadiah 24 jam bersamamu sebagai bonus kesetiaanku.
aku mencintaimu dan aku memilikimu sepanjang hidupku . akan tetap kunikmati kopi, roti dan suaramu seperti sebelum atau sesudah aku bertemu denganmu ~
diremasnya kertas itu sekuat ia menahan luka dihatinya. kertas berisi coretan terakhir isi hati seorang wanita yang ada didalam tanah yang sekarang dipijaknya. tanah yang masih lembab dengan taburan bunga mawar yang masih segar disemua permukaannya. Nama yang selalu terukir dihatinya kini terukir pula disebuah batu nisan. air matanya mengalir deras. Ia berharap derasnya seperti hujan yang mampu membawa keajaiban seperti waktu itu. kini ia mengerti alasan mengapa kopi yang selama ini ia sajikan selalu terasa dingin. Suara yang selalu menghidupkannya telah hilang untuk selama-lamanya. suara yang juga selama jeda waktu yang hilang selalu menemani sepanjang tahun kopi panasnya! sekarang dimana ia akan mencarinya lagi? "kembalilah, aku disini untukmu dan untuk kopi juga rotimu! jangan biarkan aku menikmati kopi dan roti ini tanpa suaramu lagi"
*untuk si tukang sapu
No comments:
Post a Comment